![]() |
| Credit by goole.com |
Deoxiribo Nucleic Acid
Biotechnology is an industrial process that uses the scientific research on DNA for practical benefits.
Plant Biotechnology
Plant biotechnology is a set of techniques used to adapt plants for specific needs or opportunities
Marine Biotechnology
Marine biotechnology studies the marine resources of the world.
Modern Biotechnology
Modern biotechnology is used to distinguish newer applications of biotechnology, such as genetic engineering and cell fusion from more conventional methods such as breeding, or fermentation.
Traditional Biotechnology
Traditional biotechnology is the use of natural organisms by humans to create or modify foods or other useful products.
Rabu, 27 Desember 2017
FUTURE EXTRACTIONS METHODS: BIOLEACHING
Bioteknologi
dalam kiprahnya digunakan untuk berbagai keperluan dari berbagai bidang.
Keperluan tersebut diantaranya mencakup bidang kedokteran, pertanian,
perikanan, lingkungan dan juga termasuk bidang pertambangan. Dalam bidang
pertambangan dikenal sebagai istilah metalurgi. Metalurgi adalah ilmu dan
teknologi yang mengkaji proses pengolahan dan perekayasaan mineral dan logam. Ruang lingkup
metalurgi meliputi: pengolahan mineral (mineral dressing),
ekstraksi logam
dari konsentrat mineral (extractive metallurgy),
proses produksi logam (mechanical metallurgy),
perekayasaan sifat fisik logam (physical metallurgy).
Salah satu cabangnya adalah Biohidrometalurgi, yakni pengolahan bijih logam menjadi logam murni dengan cara penambahan
mkhluk hidup seperti bakteri.
Logam
merupakan bahan pertama yang dikenal oleh manusia dan digunakan sebagai
alat-alat yang berperan penting dalam sejarah peradaban manusia (Darmono,
2001). Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang
sama dengan logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan
bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam organisme hidup. Berbeda
dengan logam biasa, logam berat biasanya menimbulkan efek-efek khusus pada
mahluk hidup (Taberima, 2004). Keberadaan logam berat dalam lingkungan berasal
dari dua sumber. Pertama dari proses alamiah seperti pelapukan secara kimiawi
dan kegiatan geokimiawi serta dari tumbuhan dan hewan yang membusuk. Kedua dari
hasil aktivitas manusia terutama hasil limbah industri (Connel dan Miller,
1995).
Perkembangan
dan pertumbuban industri di samping memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,
juga menghasilkan buangan limbah. Limbah yang dihasilkan dari proses industri
antara lain mengandung logam berat yang berasal dari industri peleburan baja,
baterai, dan cat atau pewarna. Di lingkungan perairan, logam berat ini akan
mengendap bersama lumpur atau bentuk sedimen sebagai sulfida, karbonat, dan
fosfat yang tidak larut. Kandungan logam berat dalam lumpur atau sedimen
berkisar 0,5-2% berat kering. Sementara Lester et al. (1983) dalam Couillard
dan Zhu (1991) mengatakan bahwa pada beberapa kasus, kadar logam berat Cr, Cu,
Pb, dan Zn dalam sedimen dapat mencapai 4% (wlw) berat kering. Logam berat
Timbal (Pb) banyak digunakan pada industri peleburan besi dan baja, industri
baterai, industri elektroplating, industri cat, warnaltekstil, kabel listrik,
dan bahan aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor (Stokinger, 1981; WHO,
1995). Oleh sebab itu industri tersebut sebagai donatur utama atau penghasil
limbah logam berat timbal pada lingkungan perairan berbentuk sedimen atau
lumpur. Bila sedimen atau endapan lumpur dengan kadar logam berat yang tinggi
dikeruk dan dibuang ke tanah maka lingkungan tanah akan tercemar. Untuk
menghilangkan dan mengekstraksi logam berat yang terdapat pada lumpur atau
sedimen maka diperlukan suatu teknologi baru dengan bantuan bakteri leaching.
Melalui proses tersebut kadar logam berat pada lumpur atau sedimen dapat
dihilangkan atau diminimalkan sehingga aman terhadap lingkungan (Chen dan Lin,
2000).
Dengan fakta
tersebut perlu dilakukan upaya agar limbah yang dihasilkan dari pasar industri
tidak mencemari lingkungan dan tentu saja mampu memberi keuntungan baik pada
masyarakat awam maupun dari pihak industri itu sendiri. Bioleaching merupakan
solusi yang tepat guna untuk menjawab keinginan masyarakat dan perusahan atau
pabrik pada saat ini.
Apa sih Bioleaching itu???
Bioleaching
merupakan suatu proses untuk melepaskan (remove) atau
mengekstraksi logam dari mineral atau sedimen dengan bantuan organisme hidup
atau untuk mengubah mineral sulfida sukar larut menjadi bentuk yang larut dalam
air dengan memanfaatkan mikroorganisme. Sementara Talvivaara Mining Company
(2010) mengungkapkan bahwa bioleaching merupakan suatu proses
ekstraksi logam yang dilakukan dengan bantuan bakteri yang mampu mengubah
senyawa logam yang tidak dapat larut menjadi senyawa logam sulfat yang dapat
larut dalam air melalui reaksi biokimia. Bioleaching logam berat
dapat melalui oksidasi dan reduksi logam oleh mikroba, pengendapan ion-ion
logam pada permukaan sel mikroba dengan menggunakan enzim, serta menggunakan
biomassa mikroba untuk menyerap ion logam. Bioleaching mempakan
teknologi alternatif yang dapat dikembangkan sebagai salah satu teknologi untuk
memperoleh (recovery) logam di masa mendatang.
Gagasan
mengenai pelarutan logam telah ada sejak tahun 166 SM ketika seorang ilmuwan bernama
Galen menyebutkan mengenai konsep pelarutan logam tua pada tembaga di Cyprus.
Kemudian Georgius Agricola (1494-1555) mendeskripsikan mengenai pembakaran pyrite (FeS2)
untuk memproduksi FeSO4. Mulai tahun 1572 berdiri industri pelarutan
logam tembaga di Rio Tinto, Spanyol. Semenjak tahun 1947, Thiobacillus
ferrooxidans diidentifikasi dan diisolasi dari acid mine drainage.
Dan mulai berkembang industri bioleaching semenjak itu. Sekarang dapat dijumpai
lebih 40 bangunan/gedung dalam suatu industri yang digunakan untuk bioleaching
tembaga, emas, seng, kobalt, dan uranium.
Latar
belakang sejarah akumulasi logam di berbagai bidang drainase asam tambang,
pembuangan tambang, dan tumpukan batubara telah dilaporkan di tempat lain
(Brierly, 1978). Pelepasan tembaga dari bijih dan presipitasi tembaga
dari larutan yang dihasilkan adalah teknologi kuno yang dipraktekkan oleh orang
Tionghoa jauh ke belakang 100-200 SM dan mungkin bahkan sebelumnya (Needham,
1974). Itu Proses yang sama juga dikenal di Eropa dan Asia Kecil, dan
kemungkinan akan digunakan di sana sekitar abad ke-2 (Rossi 1990). Namun,
keterlibatan mikroorganisme tertentu dalam proses pelarut logam ternyata tidak
dipraktikkan sampai 1940-an. Sejak itu banyak kontribusi penelitiannya membantu
memperjelas mekanisme dasar di balik proses ini. Biooksidasi bijih sulfida
untuk pemulihan tembaga telah dilakukan dipraktekkan selama berabad-abad di
Spanyol, Swedia, Jerman, China, dan di tempat lain oleh teknologi pertambangan
solusi (Ehrlich, 1999).
Pembakaran pirit (FeS2):
Pada langkah pertama, disulfida
secara spontan dioksidasi menjadi tiosulfat
oleh besi ferri (Fe3+), yang kemudian akan dikurangi untuk
memberikan besi ferrous (Fe2+):
1.
spontan
2. Besi
ferrous ini kemudian dioksidasi oleh bakteri aerob:
3. Tiosulfat
juga dioksidasi oleh bakteri untuk memberikan sulfat:
4. Besi
besi dihasilkan dalam reaksi (2) sulfida teroksidasi lebih seperti pada reaksi
(1), menutup siklus dan diberi reaksi bersih:
Produk bersih reaksi yang larut yaitu ferro
sulfat dan asam
sulfat.
Proses oksidasi mikroba terjadi pada membran
sel bakteri. Beberapa elektron
masuk ke dalam sel
yang digunakan dalam proses biokimia
untuk menghasilkan energi bagi bakteri sementara mengurangi oksigen ke air.
Reaksi kritis adalah oksidasi sulfida dengan besi besi. Peran utama dari
bakteri adalah langkah regenerasi reaktan ini. Proses untuk tembaga sangat
mirip, namun efisiensi dan kinetika tergantung pada mineral tembaga. Mineral
yang paling efisien adalah mineral supergen seperti senshinsei kaliberasi, Cu2S
dan Covellite.
Mineral tembaga utama kalkopirit
(CuFeS2) jumlahnya melimpah dan sangat efisien. Pencucian CuFeS2
terdiri dari 2 dua tahap yaitu menjadi terlarut dan kemudian lebih lanjut
dioksidasi, dengan Cu2+ ion yang tertinggal dalam larutan.
Pencucian kalkopirit:
1.
Spontan
2.
Oksidasi
Besi
3.
Oksidasi
Belerang
Secara umum, sulfida
yang pertama dioksidasi menjadi sulfur elemental, sedangkan disulfida yang
teroksidasi untuk membentuk tiosulfat
, dan proses di atas dapat diterapkan pada bijih sulfida lain. Bijih-bijih uranium juga menggunakan besi sebagai oksidan
(misalnya UO2 + 2Fe3+ ==> UO22+
+ 2Fe2+). Dalam hal ini tujuan tunggal langkah bakteri adalah
regenerasi Fe3+. Sulfidik bijih
besi dapat ditambahkan untuk mempercepat proses dan menyediakan
sumber besi.
Proses Bioleaching Pada Bahan Pencemaran
Pengolahan
limbah industri secara biologi dengan tumbuhan eceng gondok, kangkung, selada
air sudah lama diterapkan. Namun penanganan limbah dengan tumbuhan ini dapat
menimbulkan masalah baru, yaitu perkembangan dari tumbuhan ini, misalnya eceng
gondok yang begitu cepat dan sulit diatasi. Akan tetapi saat ini telah berkembang
penggunaan mikroba untuk meleaching logam berat, yaitu suatu metode altematif
yang relatif lebih potensial dan ekonomis dibandingkan dengan metode yang telah
ada sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi antara logam berat
dengan sel-sel mikroba yang tidak hanya mengakibatkan hilangnya logam berat
dari limbah industri (sedimen), tetapi juga dimungkinkannya proses diperolehnya
kembali (recovery) logam-logam tersebut. Bila ditinjau dari segi biaya maka
proses pengolahan limbah industri dengan menggunakan mikroba ini lebih
menguntungkan dan lebih murah karena tidak membutuhkan alat-alat yang canggih.
(Avery 1980). Oleh sebab itu untuk masa yang akan datang sudah saatnya
teknologi ini diterapkan pada pengolahan limbah industry, tambang emas, dan
cemaran logam lainnya.
Keberadaan
bakteri di lingkungan umumnya dapat mempercepat proses degradasi zat pencemar
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Bakteri mampu memecah senyawa kompleks
yang berbahaya bagi lingkungan menjadi senyawa yang lebih sederhana yang ramah
lingkungan. Selain membantu menurunkan toksisitas, keberadaan bakteri pada
limbah atau polutan logam dapat juga menyebabkan toksisitas terhadap lingkungan
yaitu melalui proses bioleaching. Bagi kalangan industri yang menghasilkan
limbah logam berat khususnya logam Pb, kehadiran bakteri ini sangat tidak
dikehendaki karena dapat melepaskan atau melarutkan logam berat dalam sedimen
limbah ke lingkungan perairan.
Bakteri yang
digunakan atau dapat melakukan leaching pada limbah logam berat umumnya
memiliki kemampuan mengakumulasi dan menghilangkan senyawa-senyawa kompleks
logam berat. Jenis bakteri yang memiliki kemampuan atau aktivitas leaching yang
baik antara lain T. ferrooxidans, P. fluoroscens, E. coli dan Bacillus sp.
Bakteri T. ferrooxidans dapat hidup pada semua jenis batuan dan memiliki
pilihan makanan yang paling aneh di antara banyak mikroba. T. ferrooxidans
memperoleh energi yang dipergunakan untuk aktivitas hidupnya dari senyawa
anorganik melalui oksidasi besi (II) menjadi besi (III) (fero menjadi feri) dan
oksidasi sulfur menjadi asam sulfat (Norris, 1990).
Brandl (2001),
menjelaskan mekanisme pelekatan bakteri pada proses bioleaching yaitu sel-sel
bakteri menempel atau melekat pada permukaan mineral melalui kontak fisik
bagian permukaan. Sel yang terbentuk mengeluarkan exopolimer, exopolimer ini
membungkus atau menjerap senyawa besi (Fe3+) dan membentuk kompleks asam
glukoronat. Tahap ini merupakan bagian utama dari proses mekanisme pelekatan.
Tiosulfat yang terbentuk merupakan produk antara (inter-mediate) selama
oksidasi semyawa sulfur. Sulfur atau politionat terbentuk di dalam
periplasmatik (periplasmatic space) atau di dalam sel dioksidasi kembali. Di
dalam periplasmatik ini ditempatkan enzim rusticyanin, cytochrome dan protein
iron-sulfur, dengan demikian keberadaan sel bebas dalam medium yang habis
digunakan mengoksidasi senyawa logam tereduksi.
DAFTAR PUSTAKA
Chen SY and Lin JG, 2000. Influence or Solid Content on
Bioleaching of Heavy Metal from Contaminated Sediment By Thiobocillus spp.
I. or Chemical
Teckonology and Bioteknology. 75: 649-56.
Connel dan Miller, 1995, Kimia dan Etoksikologi
Pencemaran, diterjemahkan oleh Koestoer,
S., hal. 419, Indonesia University Press, Jakarta.
Couillard D and Zhu S, 1992. Bacterial Leaching of Heavy
Metals From Sewage Sludge For Agricultural Application. Water, Air. And Soil
Pollution, 63: 67-80.
Ehrlich HL (1999) Past, present and future of
biohydrometallurgy. In: Amils R, Ballester A (eds), Biohydrometallurgy and the
environment toward the mining of the 21st century, IBS99. Elsevier, Amsterdam,
pp 3–12
Lester, James P., dan Joseph Stewart Jr. 2000. Public
Policy : An Evolutionary Approach, Belmont : Wadsworth
Stokinger IIE. 1981. The Metal, in Clayton
GD, Clayton EF (Eds), Patty's Industrial Hygiene and Toxicology. New York:
A Willey Interscience Publication, John Willey &Sons.
Taberima, Sartji.2004. Peranan Mikroorganisme
Dalam Mengurangi Efek Toksik Pada Tanah Terkontaminasi Logam Berat. Institut
Pertanian Bogor.
Talvivaara Mining Company. 2010. Production
Technology. http://www.talvivaara.
com/files/talvivaara/Presentations/Talvivaara_Technical_Seminar_London_May_Presentation.pdf
[diakses 13 Mei 2011]
BIOLOGICAL WARFARE: SENJATA BIOLOGIS, PERLUKAH?
![]() |
| Credit by Google.com |
Apa
si yang dimaksud dengan senjata biologis???
Senjata biologi (bahasa Inggris: biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus,
atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat
untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Senjata biologi sering disebut
sebagai "senjata nuklir orang miskin" (Gould, 1997). Biaya maupun
teknologi yang diperlukan untuk membuat senjata biologis jauh lebih rendah dan
mudah dibanding senjata nuklir atau kimia. Walaupun demikian, efek penghancuran
massa-nya tidak kalah hebat dibanding kedua senjata tadi. Menurut perhitungan Office
of Technology Assessment di Konggres Amerika pada tahun 1993, 100 kg spora Bacillus anthracis yang disebarkan di
atas ibu kota Washington bisa menimbulkan korban 3 juta jiwa. Dalam
kenyataannya, penyebaran bakteri serupa dari instalasi pembuatan senjata
biologis Rusia di kota Yekaterinburg pada tanggal 2-3 April 1979 telah menelan
korban tewas 'puluhan ribu jiwa' di daerah sekitarnya menurut laporan Union for
Chemical Safety, walau laporan resmi pemerintah hanya 66 orang (Graeves, 1999).
Teknologi
ini juga telah menjadi standar dalam setiap eksperimen biologi molekuler. Bacillus anthracis yang dapatdimatikan
dengan antibiotika jenis Penicillin dengan mudah dapat dibuat resisten dengan
mentransfer gen enzim lactamase. Biopreparat, jaringan instalasi pembuatan
senjata biologisdi Rusia, dikabarkan telah merekayasa bakteri penyebab pes
dengan resistensi terhadap 16 jenis antibiotika. Metode rekayasa lain yang
memungkinkan adalah dengan teknologi yang disebut "evolusi yang diarahkan"
(directed evolution). Metode ini dikembangkan pertama kali tahun 1994 oleh Dr. Willem
Stemmer peneliti di perusahaan bioteknologi, Maxygen yang berbasis di kota
Redwood, California.
Sejarah
Senjata Biologis
Bagaimana
mengenai sejarah pembuatan senjata biologi ya?? …. Sejarah penggunaan
senjata biologi dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians)
menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran)
dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga
dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke
dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang
dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka
terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Peristiwa penting dalam sejarah kuno
penggunaan senjata biologi terjadi ketika bangsa Mongol mengusir
bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Mati dengan
memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes.
Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap
diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga
akhirnya menimbulkan "kematian hitam" (black death) di
wilayah Eropa. Pada tahun 1754-1760, terjadi peperangan antara
bangsa Britania Utara dan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan virus
cacar. Ketika itu, Britania Utara memberikan pakaian
dan selimut dari rumah sakit yang merawat
penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan
bangsa tersebut (Abyan, 2011).
![]() |
| Credit by Mudphe |
Klasifikasi atau pengelompokkan
Klasifikasi atau pengelompokkan senjata biologi dapat
dilakukan berdasarkan taksonomi, inang, sindrom yang ditimbulkan, efek yang
dihasilkan, cara penyebarannya, dan respon praktis atau menurut sifat
fungsionalnya. Salah salah klasifikasi yang sering digunakan klasifikasi fungsional
yang dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and
Prevention atau CDC), meliputi:
a. Kategori
A
1.
Penyebarannya
dapat dilakukan dengan mudah dan ditularkan dari manusia yang satu ke yang lain.
2.
Penyebab
tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi memengaruhi kesehatan publik.
3.
Dapat
menyebabkan kepanikan dan gangguan sosial.
4.
Memerlukan
penanganan khusus untuk persiapan kesehatan masyarakat. Contoh kategori A:
cacar, antrax, botulisme, dll.
b. Kategori
B
1.
Kemampuan
penyebarannya bersifat moderat.
2.
Menimbulkan
tingkat kesakitan yang moderat dan tingkat kematian yang rendah.
3.
Memerlukan
peningkatan kapasitas diagnostik yang spesifik dan peningkatan pengawasan
penyakit. Contoh kategori B: brucellosis, demam Q, Glanders, dll.
c.
Kategori
C
1.
Meliputi
patogen yang dapat dimodifikasi untuk disebarluaskan di masa depan, karena
memiliki karakeristik: ketersediaan memadai.
2.
Mudah
diproduksi dan disebarkan; berpotensi menyebabkan tingkat kematian dan
kesakitan yang tinggi, serta mampu memengaruhi kesehatan publik. Contoh
kategori C: Virus Hanta, Virus Nipah, demam kuning, dll.
Macam-Macam Senjata Biologis
a. Virus Chimera
![]() |
| Credit by Delpac, 2012 |
Virus chimera pada gambar 1. didefinisikan oleh Pusat Biologis
Veteriner Amerika sebagai "mikroorganisme hybrid baru yang diciptakan
dengan bergabung fragmen asam nukleat dari dua atau lebih mikroorganisme yang
berbeda di mana masing-masing minimal dua fragmen mengandung gen penting yang
diperlukan untuk replikasi. " Istilah chimera sudah dirujuk ke organisme
individu yang tubuhnya mengandung populasi sel dari zigot yang berbeda atau
organisme yang dikembangkan dari bagian embrio yang berbeda. Dalam mitologi,
chimera adalah makhluk seperti Hippogriff atau Gryphon yang terbentuk dari
bagian binatang yang berbeda, demikian nama untuk virus ini. Pada akhir tahun
1980-an, pemerintah Uni Soviet mengembangkan project Chimera yang berusaha
mengkombinasikan antara smallpox dan ebola menjadi 1 virus super (Delpac, 2012).
b. Virus Nipah
| Credit by Delpac, 2012 |
Virus Nipah diidentifikasi pada bulan April 1999,
ketika itu menyebabkan wabah penyakit saraf dan pernafasan pada peternakan babi
di Semenanjung Malaysia, yang mengakibatkan 257 kasus manusia, termasuk 105
kematian manusia dan pemusnahan satu juta babi. Di Singapura, 11 kasus,
termasuk satu kematian, terjadi pada pekerja rumah potong hewan terkena babi
yang diimpor dari peternakan yang terkena Malaysia. Virus Nipah telah diklasifikasikan
oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit sebagai agen Kategori C. Nama
"Nipah" mengacu pada tempat, Sungai Nipah di Negeri Sembilan Negara,
Malaysia, sumber kasus manusia dari mana virus Nipah pertama kali diisolasi (Delpac, 2012).
c. Rinderpest
![]() |
| Credit by Delpac, 2012 |
Ketika Genghis
Khan menginvasi Eropa pada abad ke-13, ia sengaja melepaskan senjata biologis
menakutkan yang menyerang ternak seperti halnya sapi dengan begitu mematikan,
dikenal di seluruh dunia saat ini dengan nama Jerman-nya, rinderpest. Rinderpes
pada gambar 3. disebabkan oleh virus terkait erat dengan campak, dan itu
mempengaruhi ternak dan hewan ruminansia lainnya seperti kambing, bison dan
jerapah. Kondisi ini sangat menular, menyebabkan demam, kehilangan nafsu makan,
disentri dan radang selaput lendir. Kondisi mengisap selama enam sampai 10
hari, ketika hewan biasanya meninggal akibat dehidrasi (Delpac, 2012).
d. Rice Blast
Sejumlah bakteri, virus dan racun
merupakan ancaman yang signifikan untuk manusia, tapi banyak agen biologis
dunia lebih memilih mangsa yang berbeda: tanaman pangan yang dibudidayakan.
Memotong suplai makanan musuh adalah strategi militer yang telah teruji, apakah
Anda membela tanah air Anda terhadap pasukan invasi atau mengepung kota
bertembok. Tanpa makanan, populasi melemah, panik, kerusuhan dan akhirnya mati. Beberapa negara, terutama Amerika Serikat
dan Rusia, telah mencurahkan banyak penelitian terhadap penyakit dan bahkan
serangga yang menargetkan tanaman pangan utama (Delpac, 2012).
e. Toksin Botulinum
![]() |
| Credit by Delpac, 2012 |
Toksin botulinum pada
gambar 4 adalah protein dan neurotoksin yang diproduksi oleh bakteri
Clostridium botulinum. Ini adalah zat akut yang paling beracun yang pernah
dikenal. Toksin botulinum dapat menyebabkan botulisme, penyakit yang serius dan
mengancam jiwa pada manusia dan hewan, tidak berwarna dan tidak berbau. Dalam
12 hingga 36 jam kemudian, akan muncul gejala: kaburnya pengelihatan, muntah
dan kesulitan menelan.Tanpa dukungan pernapasan, Clostridium botulinum bisa
membunuh dalam tempo 24 sampai 72 jam (Delpac, 2012).
f. Tularemia
![]() |
| Credit by Delpac, 2012 |
Tularemia adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis. Penyakit ini didapat setelah
bersentuhan dengan binatang dan unggas itu, oleh memakan daging yang tidak
dimasak benar-benar dan dari gigitan kutu binatang atau serangga penghisap
darah lain. Kelinci ialah binatang sumber penyakit ini yang paling umum. Mikroorganisme yang menyebabkan itu adalah
salah satu bakteri yang paling menular di Bumi. Ttahun 1941, Uni Soviet
melaporkan 10.000 kasus penyakit. Kemudian, selama pengepungan Jerman
Stalingrad pada tahun berikutnya, jumlah ini melonjak menjadi 100.000 (Delpac, 2012).
g. Plague
| Credit by Delpac, 2012 |
Gambar tersebut
menujukkan virus Plague. Virus ini adalah virus yang mematikan. Korban yang terinfeksi virus Palgue, jika
tidak diobati dalam 24 jam pertama infeksi, 70 persen dari mereka mengalami kematian.
Wabah menyebar melalui udara dengan batuk, bersin dan kontak tatap muka.
Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, lendir berdarah dan kesulitan bernapas (Delpac, 2012).
h. Virus Ebola
| Credit by Delpac, 2012 |
Ebola pada gambar
7 adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae.
Gejala-gejalanya antara lain muntah, diare, sakit badan, pendarahan dalam dan
luar, dan demam. Tingkat kematian berkisar antara 80% - 100%. Asal katanya
adalah dari sungai Ebola di Kongo. Penyakit Ebola dapat ditularkan lewat kontak
langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21
hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Sejauh ini, Ebola adalah penyakit yang
paling mematikan diseluruh dunia (Delpac, 2012).
i. Anthrax
| Credit by Delpac, 2012 |
Antraks adalah
penyakit sangat mematikan yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam
bentuknya yang paling ganas yang terdapat pada gambar 8. Dalam Bahasa Yunani,
Antraks bermakna "batubara". Istilah ini digunakan karena kulit para
korban akan berubah menjadi hitam. Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti
dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak dapat ditularkan antara
sesama manusia. Tahun 2001 kantor senat Amerika pernah mendapat serangan
Antraks melalui media surat, 5 terbunuh dan 17 terinfeksi (Delpac, 2012).
j. Smallpox
![]() |
| Credit by Delpac, 2012 |
Smallpox
disebabkan oleh virus variola. Tanda-tanda terjangkit smallpox seperti halnya
demam tinggi, sakit pada badan, ruam yang berkembang dari benjolan berisi
cairan menjadi koreng, bekas luka berbentuk bintik-bintik (Delpac, 2012).
Keuntungan Senjata Biologis
Penggunaan senjata biologi memiliki
beberapa keuntungan dan keunggulan dibandingkan jenis senjata militer lainnya.
Beberapa keuntungan pemakaian senjata biologi adalah biaya produksi relatif
murah dibandingkan senjata penghancur lainnya, alat dan bahan yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan agen biologi cukup sederhana, dan waktu yang diperlukan dalam
pembuatannya relatif lebih pendek. Secara ekonomis, pembuatan senjata biologi
juga menguntungkan karena dapat dibuat vaksin atau penawar dari senjata biologi
yang telah diciptakan dengan alat yang sama namun vaksin dapat diperdagangkan
kembali dengan harga tinggi. Penyerangan dengan senjata biologi disukai oleh
banyak negara karena penyebarannya tidak terdeteksi dan musuh tidak menyadari
adanya penyerangan dengan senjata biologi. Selain itu, agen biologi yang hidup
di dalam tubuh manusia dapat berkembang biak dan menyebar dari individu satu ke
individu lain secara alami. Hal ini sangat mungkin terjadi karena agen biologi
(terutama virus) yang disebar tidak terlihat oleh mata telanjang, tidak berbau,
dan tidak berasa. Dibandingkan dengan senjata nuklir, senjata biologi lebih
unggul karena penggunaannya tidak merusak infrastruktur atau fasilitas yang ada
dalam daerah yang diserang, sehingga infrastruktur yang tertinggal dapat
dimanfaatkan kembali.
Kerugian Senjata Biologis
Penggunaan
senjata biologi juga memiliki kelemahan yang apabila tidak diperhitungkan
secara cermat dapat merugikan. Di antaranya adalah perlunya perhitungan cuaca
atau kondisi yang tepat untuk melakukan penyebaran senjata tersebut karena
sedikit perubahan arah angin dapat mengakibatkan agen biologi berbalik
menyerang diri sendiri. Untuk agen biologi yang disebar melalui udara, waktu
tinggal atau ketahanan mereka di udara merupakan hal yang penting untuk
diketahui agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasukan penyerang ketika
mereka memasuki daerah yang telah berhasil dilumpuhkan /diinfeksi.
Pasukan
yang bertugas menyebarkan senjata biologi juga harus dilengkapi dengan berbagai
alat pelindung karena risiko terinfeksi agen biologi yang digunakan sebagai
senjata dapat dialami oleh mereka.Beberapa jenis senjata biologi juga diketahui
rentan terhadap radiasi matahari maupun perubahan cuaca sehingga agen biologi
dapat terinaktivasi dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Untuk beberapa jenis
senjata biologi seperti itu, biasanya dilakukan penyebaran pada larut malam
atau pagi subuh sehingga radiasi matahari tidak akan mengganggu dan agen
biologi dapat menyebar pada ketinggian yang rendah dan menyelimuti daerah yang
diserang. Kerugian lain dari penggunaan senjata biologi adalah adanya beberapa
agen biologi yang dapat bertahan lama di lingkungan (seperti spora Bacillus anthracis) sehingga daerah yang
telah diinfeksi tidak dapat dihuni/ditinggali dalam jangka waktu yang cukup
lama.
Pencegahan Penggunaan Senjata Biologis
Perjanjian
di tingkat internasional yang melarang penggunaan senjata biologis dimulai
sejak Geneva Protocol tahun 1925. Akan tetapi, sejarah memperlihatkan bahwa
pengembangan senjata biologis tetap berlanjut. Salah satu contoh yang
terdokumentasi adalah penggunaan senjata biologis oleh tentara Jepang dalam
perang dunia ke-2 di Cina. Untuk itu, pada tahun 1972 disepakati perjanjian
Biological and Toxin Weapon Convention (BTWC) yang disponsori oleh PBB. Dalam
perjanjian ini, lebih ditegaskan lagi mengenai “pelarangan dalam pengembangan, pembuatan
dan penyimpanan segala jenis senjata biologis” (Witarto, 2002).
Sampai
saat ini tak kurang dari 140 negara telah menandatangi perjanjian ini, termasuk
Indonesia, Amerika, dan Rusia. Akan
tetapi kelemahan utama BTWC adalah tidak adanya kesepakatan bersama untuk pengawasan
dan pembuktian, sehingga perjanjian ini mirip “singa tanpa gigi”. Rusia dan
Irak terbukti mengembangkan senjata biologis walaupun ikut menandatangani
persetujuan tersebut. Hal ini mendorong dibentuknya grup Ad Hoc pada tahun 1995
untuk membuat protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan. Pada awalnya,
Amerika mendukung penuh kerja panitia Ad Hoc itu melalui pernyataan Presiden
Clinton tahun 1998. Akan tetapi, di akhir protokol tersebut hampir selesai,
sikap Amerika dibawah pemerintahan Presiden Bush berbalik total dengan tidak
hanya menolak protokol itu tapi juga mengancam akan keluar dari perjanjian.
Sikap ini mengingatkan pada langkah Amerika keluar dari perjanjian Kyoto
mengenai pengurangan emisi gas karbon dioksida atau perjanjian peluru kendali
antar benua (Witarto, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Abyan. 2011. Senjata Biologi. http://militerania. blogspot.co.id/ 2011/08/ senjata-biologi. Html.
[diakses pada 20 Desember 2017. Pukul 05. 25 WIB].
Delpac. 2012. Semua senjata biologis memang menakutkan.
Namun disini akan dijelaskan secara ringkas tentang 10 senjata biologis yang
efeknya paling destruktif. https://www .kaskus.co.id /thread / 5185296c0a75b44b45000006/
10- senjata- biologis- paling-menakutkan/. [diakses pada 20 Desember 2017. Pukul 7.
13 WIB].
Fidler, David,
1999. International Law And Infectious
Diseases. Oxford: Clarendon Press.
Witarto, Arief B. 2002.
Bahaya Senjata Biologis. Berita
Iptek: Sains Dan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.






:fill(transparent,1)/GettyImages-sb10064168s-001-2--577477375f9b585875cc1800.jpg)





.jpg)
